PENATAAN "KOTA LAMA KUPANG" DITENGAH DESAKAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Kota Kupang adalah ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. 
Berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan baru ini merupakan suatu potensi yang sangat baik guna mendorong pergerakan ekonomi masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya. Tetapi dengan adanya pusat-pusat pertumbuhan baru tersebut di satu sisi dapat berakibat negatif bagi perkembangan Kota ’Lama’ Kupang (kawasan sepanjang Benteng hingga Kampung Solor). Walaupun belum ada hasil penelitian yang terkait dengan data hasil pantauan pergerakan masuk dan keluarnya modal di sekitar kawasan Kota ’Lama’ Kupang, namun berdasarkan pengamatan terlihat bahwa perkembangan ekonomi di Kota ’Lama’ Kupang sedikit menurun terutama animo masyarakat untuk berbelanja di kawasan ini yang mulai menurun.
Pemerintah Kota Kupang telah melakukan berbagai upaya penataan untuk meningkatkan kembali fungsi kawasan ini menjadi pusat perdagangan terlihat dari adanya beberapa taman kota yang dibangun untuk menambah kesan menarik kota lama ini. Namun upaya ini terlihat kurang berhasil terutama jika dilihat dari terbengkalainya salah satu taman kota yang dibangun di sekitar Kampung Solor. Kemudian pada tahun 2005 pemerintah kembali membangun taman di tepi laut tepat di depan Terminal Kota Kupang, pada awal pembangunannya taman ini banyak dikunjungi tetapi kemudian mulai tidak diminati.
Melihat permasalahan ini terlihat bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dalam upaya pemerintah untuk melakukan penataan kembali wajah ’Kota Lama’ Kupang yaitu belum sinergi atau terpadunya seluruh potensi yang ada sehingga upaya-upaya pembangunan yang ada belum bahkan tidak dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat Kota Kupang sendiri.
Sebagaimana diketahui juga bahwa kawasan ini merupakan kawasan peninggalan sejarah dimana kawasan ini sebenarnya merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan pada masa penjajahan Belanda. Hal ini masih terlihat dari beberapa peninggalan bangunan kuno berarsitektur Belanda yang dulunya berfungsi perkantoran maupun perdagangan, serta adanya bangunan gereja tua (Gereja Kota Kupang). Juga terdapat Tugu Lonceng sebagai salah satu ciri peninggalan Belanda yang terletak di sekitar pertigaan menuju Benteng. Selain itu terdapat bangunan perdagangan yang merupakan daerah pecinan dengan umur bangunan sudah hampir setengah abad.
Dengan demikian kawasan ini sebenarnya merupakan salah satu kawasan yang memerlukan pelestarian namun kenyataannya adalah bahwa saat ini banyak bangunan-bangunan bersejarah tersebut yang tidak terawat lagi. Selain itu kesan tidak terawat juga dikarenakan banyak bangunan perdagangan dan jasa (toko/pertokoan) yang terkesan kumuh serta tidak menunjukkan satu kesatuan lingkungan yang menarik. Kesan ini menjadi lebih tidak menarik karena kondisi lingkungan yang ada juga tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana lingkungan yang baik. Utilitas berupa drainase, tempat pembuangan sampah serta sanitasi lingkungan yang ada juga masih kurang. Akibat dari kondisi ini adalah kondisi kegiatan ekonomi di kawasan ini menjadi kurang berkembang.
Melihat kondisi seperti ini maka permasalahan ini harus segera ditanggulangi karena jika tidak maka kegiatan perekonomian di kawasan ini yang kurang berkembang dapat terhenti karena ditinggalkan para pelaku ekonominya sehingga kawasan ini dapat menjadi kota mati. Hal ini tentu sangat disayangkan karena kota ini sebenarnya memiliki nilai sejarah yang tinggi serta merupakan kawasan yang strategis sebab berada pada simpul transportasi antara Pelabuhan Tenau di bagian selatan dan jalan Trans Timor. Selain itu infrastruktur yang ada juga sudah cukup lengkap guna mendukung fungsi kawasan sebagai pusat perdagangan dan jasa.
No comments:
Post a Comment